youforgottorenewyourhosting — Aktivitas seismik di gunung api tersebut menunjukkan tren yang stabil. Data pemantauan mencatat, frekuensi gempa vulkanik dalam berada dalam jumlah rendah dan tidak menunjukkan peningkatan yang progresif. Sementara itu, gempa vulkanik dangkal sama sekali tidak terekam selama periode pengamatan.
Indikasi Kondisi Bawah Permukaan
Kondisi seismik ini memberikan gambaran yang jelas tentang dinamika di bawah permukaan. Tingkat gempa vulkanik dalam yang rendah dan stabil mengindikasikan bahwa tekanan dari sumber magma di kedalaman tidak mengalami eskalasi yang signifikan. Lebih penting lagi, ketiadaan gempa vulkanik dangkal menjadi penanda bahwa saat ini tidak terjadi pembukaan rekahan baru atau pergerakan material magma menuju zona yang lebih dekat dengan permukaan.
Imbauan Pasca Penurunan Status
Seiring dengan penurunan tingkat aktivitas, otoritas terkait mengeluarkan serangkaian imbauan keselamatan. Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas apa pun dalam radius empat kilometer dari pusat erupsi. Sebagai perbandingan, radius aman sebelumnya saat status Siaga (Level III) adalah enam kilometer, dan pada Level IV (Awas) mencapai tujuh kilometer.
Kewaspadaan Terhadap Ancaman Lahar
Ancaman sekunder pasca erupsi tetap harus diwaspadai. Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Daerah-daerah yang rawan terdampak banjir lahar adalah wilayah sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak gunung, mencakup beberapa desa seperti Nawokote, Hokeng Jaya, Klatanlo, Dulipali, Nobo, dan Nurabelen.
Hingga saat ini, lima dari desa tersebut (kecuali Nurabelen) masih menempati hunian sementara (Huntara), sementara sebagian warga lainnya memilih mengungsi secara mandiri. Bagi pengendara yang melintas, diperlukan kehati-hatian ekstra di ruas Jalan Trans Flores Larantuka–Maumere, khususnya di wilayah Hokeng Jaya dan Dulipali, karena masih terdapat material endapan lahar di badan jalan.
Harapan dari Penyintas
Krensenius Ladjar, seorang penyintas asal Hokeng Jaya yang kini tinggal di Huntara III, menyambut baik penurunan status aktivitas gunung tersebut. Dengan penuh harap, ia mengungkapkan rasa syukur, “Semoga Ile (gunung) bisa normal kembali. Terima kasih, Tuhan dan leluhur.” Ungkapan ini merepresentasikan harapan banyak warga yang terdampak untuk segera kembali ke kehidupan yang tenang dan normal.
