youforgottorenewyourhosting — Bank Indonesia (BI) menyampaikan optimisme terhadap ketahanan perekonomian Ibu Kota di tengah tantangan global. Lembaga otoritas moneter memproyeksikan pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada tahun 2026 akan tetap kuat, dengan perkiraan kisaran 4,8 hingga 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Proyeksi ini disertai dengan keyakinan bahwa tingkat inflasi akan tetap berada dalam koridor yang terkendali.
Konsumsi Masyarakat Jadi Penopang Utama
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa prospek pertumbuhan tersebut terutama akan ditopang oleh peningkatan konsumsi masyarakat. Momentum ini diprediksi akan sangat terasa pada Triwulan I tahun 2026, seiring dengan berlangsungnya serangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
“Untuk pertumbuhan ekonomi Jakarta, terutama pada Triwulan I 2026, kami perkirakan akan meningkat. Hal ini didorong oleh konsumsi yang akan meningkat tinggi mengingat adanya HBKN, seperti Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri,” jelas Iwan dalam sebuah kesempatan di Jakarta.
Dampak Positif Hari Besar Keagamaan
Secara historis, periode hari libur yang panjang dan beruntun selama HBKN memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi di Jakarta. Peningkatan belanja masyarakat untuk kebutuhan konsumsi, transportasi, dan pariwisata menjadi pendorong utama.
“Ini akan mendorong pertumbuhan, terutama pada aspek investasi, perdagangan, dan transportasi di Triwulan I 2026,” tambah Iwan. Sektor-sektor tersebut diharapkan mendapatkan multiplier effect dari geliat konsumsi selama momen-momen spesial tersebut.
Inflasi Diproyeksikan Tetap Terjaga
Di samping proyeksi pertumbuhan yang optimis, Bank Indonesia juga menyampaikan keyakinannya terhadap stabilitas harga. Otoritas moneter meyakini inflasi Jakarta sepanjang tahun 2026 akan tetap dapat dikelola dengan baik.
“Berbicara mengenai outlook inflasi 2026, kami masih meyakini bahwa kita akan bisa menjaga inflasi tahun 2026 berada pada rentang 2,5 persen plus minus 1 persen,” tegas Iwan. Target ini menunjukkan komitmen untuk menjaga daya beli masyarakat tetap stabil sembari mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, proyeksi ini menggambarkan resilien atau daya tahan ekonomi Jakarta. Kombinasi antara konsumsi domestik yang kuat dan pengendalian inflasi yang baik diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan yang berkualitas di tengah ketidakpastian ekonomi global.
