Program Pengelolaan Sampah Pertamina Hasilkan Nilai Ekonomi

Program Pengelolaan Sampah Pertamina Hasilkan Nilai Ekonomi

youforgottorenewyourhosting — Komitmen dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat terus diwujudkan melalui berbagai inisiatif di lapangan. Salah satu implementasi nyata terlaksana melalui unit operasi di Fuel Terminal Boyolali, Jawa Tengah. Unit ini menggerakkan program Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Resik yang berlokasi di Desa Butuh.

Dampak Ekonomi dari Sampah Terkelola

Fasilitas TPS 3R tersebut menunjukkan kinerja yang signifikan dengan kapasitas mengelola hingga 480 ton sampah setiap tahunnya. Program ini melibatkan partisipasi aktif dari 310 kepala keluarga dan 115 pelaku usaha di wilayah setempat. Menurut data yang dirilis, inisiatif ini tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi yang nyata bagi warga, dengan perkiraan mencapai Rp36 juta per tahun.

Inovasi Pengolahan Sampah Organik

Lebih dari sekadar pengumpulan, program ini juga mencakup pendampingan dan pembinaan. Sebanyak 15 bank sampah dibina untuk mengembangkan solusi inovatif, salah satunya adalah budidaya maggot atau larva black soldier fly. Maggot menjadi solusi biologis untuk mendegradasi sampah organik dengan cepat.

Dari proses budidaya maggot ini, dihasilkan berbagai produk turunan yang memiliki nilai jual, seperti kompos untuk pertanian, eco-enzyme untuk pembersih alami, dan pakan ternak berkualitas. Produk-produk ini menjadi sumber tambahan pendapatan yang berkelanjutan bagi kelompok masyarakat yang terlibat.

Replikasi Keberhasilan di Wilayah Pesisir

Keberhasilan model serupa juga terlihat di wilayah pesisir melalui Program Kampung Pesisir Berdaya yang dijalankan Fuel Terminal Medan, Sumatera Utara. Program ini memfasilitasi Bank Sampah Horas Bah yang berhasil mengumpulkan dan mengelola sekitar 10 ton sampah per tahun.

Dampak ekonominya pun cukup menggembirakan, dengan nilai ekonomi yang dihasilkan mencapai Rp1,925 juta setiap bulannya bagi masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan bank sampah tersebut.

Kolaborasi Kunci Perubahan

Ketua Kelompok Program Bank Sampah Horas Bah, Dian Syahputra, menekankan bahwa menjaga kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab kolektif. Menurutnya, perubahan positif tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja.

“Perubahan tidak datang dari satu orang, tetapi dari keberanian untuk bergerak bersama,” ujar Dian, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menciptakan solusi pengelolaan sampah yang efektif dan berdampak luas.

Back To Top