Koalisi Kecam Teror ke Aktivis dan Influencer di Indonesia

Koalisi Kecam Teror ke Aktivis dan Influencer di Indonesia

ANGKARAJA — Koalisi masyarakat sipil menyuarakan kecaman keras terhadap aksi teror dan intimidasi yang menimpa sejumlah aktivis dan pemengaruh atau influencer. Mereka menilai serangan terhadap Iqbal Damanik (Aktivis Greenpeace), Ramond Dony Adam (DJ Donny), Sherly Annavita, Virdian Aurellio, dan @pitengz_oposipit bukan sekadar ancaman personal, melainkan serangan terhadap nilai-nilai demokrasi dan kemerdekaan menyampaikan pendapat yang dijamin konstitusi.

Dalam pernyataan sikapnya, koalisi menilai negara dianggap telah membiarkan aksi-aksi tersebut terjadi tanpa respons tegas untuk menghukum pelakunya. Intimidasi dan teror ini harus dilihat sebagai upaya sistematis untuk membungkam kritik, membatasi partisipasi publik, dan melanggengkan ketidakadilan.

“Situasi ini menjadi penanda bagi kita semua untuk saling menjaga. Warga jaga warga,” demikian bunyi pernyataan bersama yang dikutip pada Kamis (1/1/2026). Aksi teror ini dinilai mencerminkan kegagalan negara dalam mendengarkan aspirasi kritis warga dan menormalisasi tindakan yang mengabaikan suara publik. Koalisi pun mengajak masyarakat luas untuk terus bersolidaritas menjaga setiap orang yang menyuarakan ekspresi dan pendapatnya.

Kebebasan Berpendapat dalam Ancaman Serius

Kepala Departemen Advokasi Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum), Faisal Aristama, menilai rentetan peristiwa ini merupakan indikator serius bahwa kebebasan berpendapat di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. “Sejumlah pegiat media sosial hingga aktivis lingkungan yang kerap melontarkan kritik tajam justru diteror dan diintimidasi. Ini merupakan bentuk pembungkaman kritik,” ujarnya.

Faisal menegaskan bahwa kebebasan berpendapat dan berekspresi telah dijamin konstitusi, tertuang dalam Pasal 28E Ayat (3) UUD 1945. “Ini tidak bisa dibiarkan. Kritik dari rakyat seharusnya dijadikan vitamin agar pemerintahan semakin sehat,” tegas mantan aktivis muda Muhammadiyah tersebut.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Iwakum, Ponco Sulaksono, mendesak aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, untuk mengusut tuntas seluruh rangkaian aksi teror ini. Ia menekankan bahwa Indonesia adalah negara hukum, sehingga prinsip fiat justitia ruat caelum (hukum harus ditegakkan walau langit runtuh) harus benar-benar diwujudkan. Jika terbukti ada aktor intelektual di balik teror ini, mereka harus segera diadili.

Kronologi Teror terhadap DJ Donny

Konten kreator dan influencer Ramon Dony Adam, yang lebih dikenal sebagai DJ Donny, telah melaporkan aksi teror yang dialaminya kepada kepolisian. Teror dimulai pada Senin (29/12) dengan kedatangan paket misterius berisi bangkai ayam yang dipenggal kepalanya. Dalam paket tersebut, terselip pesan ancaman yang memintanya menjaga ucapannya di media sosial, disertai foto dirinya dengan coretan di bagian leher.

“Ada tulisan ancaman, ‘Kalau kamu masih berbicara… kamu akan seperti ayam ini.’ Terus ada foto saya, di leher saya di kayak diiris gitu,” ujar DJ Donny di Polda Metro Jaya, Rabu (31/12/2025).

Teror berlanjut pada Rabu dini hari (31/12) sekitar pukul 03.00 WIB. Dua pria tak dikenal terekam CCTV melempar bom molotov ke arah rumahnya. Berkat hujan yang turun, api tidak membesar dan tidak menyebabkan kebakaran. Pecahan botol dan sisa molotov dibiarkan sebagai barang bukti.

Laporan ke Polda Metro Jaya

Merasa keselamatan keluarga dan lingkungan sekitar terancam, DJ Donny akhirnya melaporkan kejadian ini ke Polda Metro Jaya. Laporan dengan nomor LP/B/9545/XII/2025/SPKT telah diterima. Ia menyatakan keputusannya melapor didasari dua pertimbangan utama: ancaman terhadap keamanan keluarganya dan risiko yang dapat menimpa tetangga di sekitarnya.

“Kalau sampai rumah tetangga saya kebakar, itu kan jadi masalah. Makanya hari ini saya merasa harus lapor,” sambungnya. DJ Donny berharap kepolisian segera mengungkap pelaku agar kejadian serupa tidak terulang dan tidak menimbulkan keresahan yang lebih luas di masyarakat. “Maksud saya, ini harus diungkap segera. Kalau enggak diungkap, nanti persepsi publik terhadap pemerintah jadi buruk,” tutupnya.

Back To Top