Harapan Arief Hidayat untuk Cucu: Lahir di Solo dan Jadi Pemimpin

Harapan Arief Hidayat untuk Cucu: Lahir di Solo dan Jadi Pemimpin

youforgottorenewyourhosting — Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat membagikan cerita personal sekaligus guyonan ringan tentang harapan keluarganya terhadap masa depan cucunya. Kisah ini disampaikan dalam pidatonya pada acara wisuda purnabakti Hakim Konstitusi yang digelar di Ruang Sidang Pleno Gedung I MK, Jakarta Pusat.

Arief menceritakan momen ketika anak bungsunya, Angga, akan menyambut kelahiran anak. Saat itu, terdapat dua pilihan lokasi persalinan: Semarang dan Solo. Setelah mengetahui melalui USG bahwa calon bayi berjenis kelamin laki-laki, timbulah candaan dalam keluarga.

“Anak saya Angga mengatakan, ‘Pak, ini katanya sudah di-USG anak saya laki-laki, berarti cucu Papa nanti laki-laki. Biar lahir di Solo ya? Karena kalau lahir di Solo bisa jadi presiden atau wakil presiden’,” ujar Arief menirukan percakapan dengan anaknya.

Makna Simbolik Kota Solo

Menurut Arief Hidayat, guyonan tersebut tidak lepas dari anggapan masyarakat bahwa Kota Solo memiliki makna simbolik tertentu dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia. Kota ini kerap dikaitkan dengan nuansa spiritual dan keberkahan, khususnya dalam konteks kepemimpinan nasional.

“Karena Solo itu berkahnya Indonesia, katanya begitu,” tambahnya. Namun, di balik candaan tersebut, terselip doa dan harapan yang tulus. Arief menegaskan bahwa harapan terbesarnya bukan sekadar tempat lahir, melainkan kualitas kepribadian sang cucu di masa depan.

Doa untuk Sang Cucu

Lebih dari sekadar lelucon tentang lokasi kelahiran, Arief menyampaikan harapan mendalamnya. “Menjadi presiden atau wakil presiden yang baik itu doa saya pada cucu saya yang terakhir yang laki-laki ini,” ucapnya.

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa nilai utama yang ingin ditanamkan adalah integritas dan kebaikan dalam memimpin, di mana pun seseorang dilahirkan. Kisah sederhana ini memberikan sisi humanis dari seorang hakim konstitusi dan refleksi tentang harapan setiap keluarga untuk generasi penerusnya.

Back To Top