Digital Smart: Bedakan Hoaks, Misinformasi, dan Disinformasi

Digital Smart: Bedakan Hoaks, Misinformasi, dan Disinformasi

Digital Smart: Dari Fakta Menjadi Konten Kreatif di Era Informasi

youforgottorenewyourhosting — Program diskusi publik kembali diadakan dengan mengusung tema ‘Digital Smart: Facts to Creative Content’. Acara ini bertujuan mengajak para mahasiswa untuk memahami cara mengenali misinformasi dan disinformasi di tengah banjirnya informasi digital yang kita hadapi sehari-hari.

Diskusi yang berlangsung di Aula Gedung Laboratorium Pusat Unggul Terpadu, Politeknik Negeri Jakarta, menekankan pentingnya verifikasi informasi sebelum disebarluaskan, terutama di era di mana kecerdasan buatan (AI) semakin mudah digunakan untuk memproduksi konten.

Tanggung Jawab di Balik Verifikasi Informasi

Seorang praktisi verifikasi fakta menjelaskan bahwa proses jurnalistik tidak berhenti pada verifikasi dan publikasi semata. Lebih dari itu, proses ini juga mencakup tanggung jawab dalam mendistribusikan konten kepada khalayak.

“Setiap informasi perlu diverifikasi melalui sumber yang jelas, data yang akurat, serta konteks yang utuh sebelum dipublikasikan. Kecerdasan dan ketelitian dalam menerima setiap informasi menjadi kunci,” ujarnya menegaskan.

Mengenal Peran dan Sejarah Pemeriksa Fakta

Praktik cek fakta telah berkembang seiring waktu dan kini menjadi pilar penting dalam ekosistem media yang sehat. Pemeriksa fakta pertama kali muncul pada tahun 1938 di majalah Time dan terus berevolusi.

Perkembangan ini memuncak pada ditetapkannya Hari Cek Fakta Internasional pada 2017. Sejak 2 Juli 2018, sebuah inisiatif cek fakta lokal telah resmi tergabung dalam jaringan pemeriksa fakta internasional, menandakan komitmen global terhadap informasi yang akurat.

“Di bawah koalisi yang menghimpun lebih dari 120 media, tidak ada persaingan untuk menjadi yang tercepat dalam mempublikasikan berita. Justru, yang terjadi adalah kolaborasi untuk memerangi misinformasi,” jelasnya.

Membedakan: Hoaks, Misinformasi, dan Disinformasi

Dalam sesi edukasi, peserta diajak untuk memahami perbedaan mendasar antara tiga istilah yang sering disamakan.

Hoaks secara umum merujuk pada berita bohong atau tidak bersumber. Namun, di dalamnya terdapat dua jenis:

Disinformasi adalah hoaks yang dibuat dan disebarkan dengan sengaja. Tujuannya seringkali untuk menciptakan kecemasan, kerugian, atau konflik di masyarakat, seperti isu bagi-bagi uang gratis atau hasutan tertentu.

Misinformasi adalah penyebaran informasi yang salah tanpa disengaja. Penyebarnya biasanya tidak mengetahui bahwa konten yang ia bagikan keliru, dan melakukannya tanpa verifikasi terlebih dahulu.

“Tantangan saat ini semakin kompleks karena konten manipulatif banyak dibuat menggunakan teknologi AI. Untuk foto, mungkin masih relatif mudah dideteksi dengan tools tertentu. Namun, untuk konten audio dan video buatan AI, diperlukan ketelitian ekstra,” paparnya.

Memverifikasi dengan Tools yang Terjangkau

Proses pemeriksaan fakta tidak selalu memerlukan perangkat atau software yang mahal. Proses ini dapat dilakukan dengan perangkat sederhana seperti ponsel dan laptop, menggunakan tools yang tersedia secara gratis.

“Salah satu contohnya adalah Google Lens untuk penelusuran gambar. Kita juga dimudahkan dengan adanya sejumlah situs web yang didesain khusus untuk mendeteksi konten buatan AI, baik itu gambar, audio, maupun video,” jelasnya. Situs seperti Fake Image Detector atau Effect Detector.ai dapat menjadi alat bantu bagi publik.

Selain itu, tersedia juga layanan chatbot melalui aplikasi percakapan yang memungkinkan masyarakat mengirimkan konten untuk diperiksa keasliannya secara langsung.

Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi yang pasif, tetapi bertransformasi menjadi pengguna digital yang kritis. Kemampuan untuk memverifikasi, memahami konteks, dan menyadari risiko penyebaran informasi yang keliru adalah keterampilan esensial di era digital, terutama dengan maraknya konten berbasis kecerdasan buatan.

Back To Top