youforgottorenewyourhosting — Daryono, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), secara resmi telah mengundurkan diri dari posisinya. Langkah ini diiringi dengan pengajuan pensiun dini dari institusi pemerintah tersebut.
Meskipun status resminya di BMKG telah berakhir, Daryono menyatakan komitmen kuatnya untuk terus aktif berkontribusi dalam bidang kegempaan dan tsunami. Ia menegaskan akan tetap menjalankan peran sebagai ahli sekaligus edukator bagi masyarakat luas.
Komitmen di Luar Struktur Institusi
Dalam sebuah pernyataan, Daryono menyampaikan, “InsyaAllah, hingga nantinya saya memiliki afiliasi institusi yang baru dan kredibel, saya akan tetap konsisten berkontribusi sebagai ahli dan edukator publik di bidang kebencanaan. Saya akan terus menjunjung tinggi objektivitas ilmiah, integritas, dan kepentingan keselamatan masyarakat.”
Ia menyatakan dirinya tetap terbuka untuk berbagai aktivitas keilmuan. Mulai dari berbagi pengetahuan, memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena kebumian, hingga bersedia menjadi narasumber ketika dibutuhkan. Bagi Daryono, kontribusi ini bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban.
Tanggung Jawab Tiga Pilar
Daryono memaparkan bahwa dorongan untuk terus berkontribusi berasal dari tiga landasan tanggung jawab yang ia pegang teguh. “Saya memiliki tanggung jawab keilmuan (Scientific Responsibility), tanggung jawab edukasi (Educational Responsibility), dan tanggung jawab moral (Moral Responsibility) di negeri yang rawan bencana ini,” tegasnya.
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa meski hubungan kelembagaan telah berakhir, ikatan moral dan keilmuan seorang ahli seperti Daryono untuk menjaga keselamatan bangsa tetap berlanjut. Kepergiannya dari jabatan struktural tidak serta-merta menghentikan perannya dalam meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana geologi.
