epictoto — Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan. Imbauan ini disampaikan menyusul kondisi cuaca ekstrem yang masih terjadi di sejumlah wilayah, termasuk daerah yang baru terdampak bencana.
Pemantauan Cuaca Intensif Bersama BMKG
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan menyatakan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berjalan intensif. Pemantauan kondisi cuaca dilakukan secara ketat setiap tiga jam sekali.
Data dari pemantauan ini menjadi dasar pertimbangan penting untuk mengambil langkah operasional lebih lanjut, termasuk keputusan pelaksanaan modifikasi cuaca.
Operasi Modifikasi Cuaca Berjalan Optimal
Untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, operasi modifikasi cuaca telah dan terus dilaksanakan. Saat ini, operasi dijalankan secara optimal dengan melibatkan tiga pesawat per provinsi yang beroperasi secara bergiliran.
“Dalam seminggu terakhir, rotasi operasi dilakukan selama 24 jam untuk memastikan cakupan yang luas,” jelas pihak BNPB. Optimalisasi ini dinilai krusial untuk menjaga kondisi cuaca agar tidak berubah secara ekstrem, khususnya di puncak musim hujan seperti sekarang.
Tujuan Utama: Mencegah Bencana Susulan
Tujuan strategis dari modifikasi cuaca adalah meminimalkan intensitas hujan sehingga tidak signifikan dan, yang terpenting, tidak memicu bencana susulan yang dapat memperparah situasi pascabencana yang sudah terjadi.
Sebagai contoh, hujan yang terjadi di wilayah Bener Meriah, Aceh, sempat menyebabkan luapan air di beberapa titik. Syukurnya, luapan tersebut tidak sampai menerjang permukiman warga dan tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material yang besar.
Peran TNI AU dan Teknik Penaburan Garam
Operasi modifikasi cuaca ini dilaksanakan oleh TNI Angkatan Udara. Teknik yang digunakan adalah menaburkan garam ke dalam gumpalan awan (cloud seeding). Dalam operasi ini, ratusan kilogram garam disebarkan untuk mengubah proses mikrofisika di dalam awan, sehingga diharapkan dapat mengurangi potensi hujan lebat yang memicu bencana.
Langkah proaktif ini merupakan bagian dari upaya komprehensif untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana susulan di tengah ketidakpastian cuaca.
